Kalau diingat sudah belasan kali kuikhlaskan tewasku.

Tahun-tahun yang buruk.

Semua seperti akan runtuh.

Saya masih di lorong yang gelap.

Memang belum melihat cahaya, tapi panas itu sudah menjalar.

Nyala

Percayalah terang akan datang
Di saat yang tidak terduga
Dan malaikat di atas bumi
Tersenyum lepas

Kupercaya pada semua
Saatnya akan tiba
Dan pada waktunya semua akan beterbangan

Kupercaya pada semua
Saatnya akan tiba
Dan pada waktunya semua akan beterbangan

Hembusan angin di sana
Dinginkan rasa kecewa

Dimanakah kita kan berpijak
Dan terus melangkah ke depan
Tanpa ada ingatan lama terbawa kembali
Hembusan angin di sana
Dinginkan rasa kecewa

Hanuy

Kalau semua lancar, maka lusa kakak saya satu-satunya akan berangkat ke Amerika. Sebagai seorang pelaut, kakak saya telah banyak melintasi banyak perairan.

Untuk mendapat visa ke Amerika untuk bekerja, bukan perkara yang mudah. Amerika adalah destinasi yang tidak semudah negara lain. Saya sangat bangga untuk itu.

Sepuluh bulan dia akan jauh dari rumah untuk berlayar di perairan Miami. Kakak saya belum berpikir untuk menikah, dia benar-benar memberi semuanya untuk keluarga. Dengan gajinya sungguh besar, bisa dibilang menjadi tulang punggung keluarga. Saya cinta kakak saya.

Kakak saya paling cerewet di rumah. Telponan di lantai atas aja kedengeran dari bawah.

Hana Miranda Peranginangin, jaga diri lo baik-baik ya. 

Gw ngedoain yang terbaik buat lo.

Gw, sayang banget sama lo.

Sebuah Noktah, Berwarna Merah, Sisa Millenium Kedua.

Seharusnya pernikahan antara Ayu Azhari dan Cok Simbara berjalan mulus, nyatanya tidak. Noktah itu muncul dalam sesosok wanita yang diperankan Berliana Febrianti.

Seharusnya ibu tiri itu jahat, nyatanya tidak, si orang ketiga ini malah rela terbakar demi menyelamatkan kedua kedua buah hati pasangan Cok-Ayu. Seharusnya banyak monolog-monolog jahat, nyatanya tidak.

Seharusnya berujung bahagia, tapi aku lupa bagaimana akhir kisah sinetron ini. Sepertinya tidak. Dari awal sinetron ini bukan sinetron hepi hedon dan goblok, ini sinetron bagus.

“My Dearest All…

“My Dearest Allie. I couldn’t sleep last night because I know that it’s over between us. I’m not bitter anymore, because I know that what we had was real. And if in some distant place in the future we see each other in our new lives, I’ll smile at you with joy and remember how we spent the summer beneath the trees, learning from each other and growing in love. The best love is the kind that awakens the soul and makes us reach for more, that plants a fire in our hearts and brings peace to our minds, and that’s what you’ve given me. That’s what I hope to give to you forever. I love you. I’ll be seeing you.”

Letter from Noah to Allie, in The Notebook (2004)

Downgrade

Kini kupacu kudaku,

Keluar hutan setelah tersesat lima tahun

Sambut jalan gelap juga kabutnya

Jiwaku gentar!

 

Tanahnya rapuh, kerikil tajam

Beruang lapar, jurang menunggu

Seharusnya bisa membunuhku

 

Suara arwah-arwah menggema :

“Kanan, belok kanan”

“Ke kiri, bodoh”

“Seharusnya tadi putar arah”

Bangsat!

 

Aku diam, aku sendiri

Takut dan hilang kewarasan

Mungkin selesai disini

 

Aku berhenti ‘tuk berlutut

Aku berhenti

***

Aku tahu, mesti diam

Tutup mata, acuhkan semua bisikan

Kembali menjadi binatang

Dan percaya dengan naluri

Pemasaran dalam Bis Antarkota

Produk yang ditawarkan beraneka ragam, banyak produk yang ditawarkan tidak sesuai dengan kebutuhan penumpang :

  • Pisau cukur ganda merek Cina, siapa yang mau merapikan jenggot dalam bis?
  • Pembersih kuping yang terbuat dari stainless steel, tidak direkomendasikan dokter THT.
  • Dompet tahan api, didemonstrasikan oleh penjualnya dengan membakarnya di depan bis.
  • Plester beraneka motif.
  • Gunting kuku.
  • Korek gas dengan fitur senter, kalau yang ini masih wajar.
  • Majalah-majalah kadaluarsa, harga setengah (nice deal!).
  • Dan yang pasti Akua, Mijon, tisu, dan tahu Sumedang.

Trial mode. Tidak melulu  ditawarkan pada pemasaran piranti lunak. Terkadang beberapa penjual buku tips membuat obat herbal atau buku tentang tata cara sholat memberikan kesempatan penumpang untuk membaca-baca sebentar. Lemparkan buku ke pangkuan penumpang, sedikit memberikan deskripsi, dan kemudian menarik kembali produknya hingga mendapatkan pembeli.

Penawaran frontal. “A, ini pir sepuluh ribu dapet 4”, belum sempat menjawab, sedetik kemudian “sepuluh ribu 5 deh buat Aa”, tidak berhasil. Pindah ke kursi sebelahnya, menawarkan kembali buah pir dengan harga Rp.10.000 untuk 4 buah, padahal jelas bahwa penumpang yang di sebelah ini mendengar bahwa si penjual sudah menawarkan harga yang lebih murah kepada penumpang sebelumnya.

Pendidikan itu penting, bukan mengenyampingkan kerja keras mereka yang tanpa lelah dan malu untuk menjajakan dagangan mereka, tapi apa yang ditulis Philip Kotler tentunya akan membantu. Membantu mereka mengubah nasib anak-anak mereka keluar dari lingkaran kemiskinan.

Zizou, Raja Perancis

Saya merasa beruntung, mulai menyukai tayangan sepakbola di masa keemasan Zidane. Saat itu Piala Dunia 1998, saya menjadi penggemar Brazil karena Ronaldonya. Ketika final tiba, saya tercengang dengan skor akhir yang cukup telak buat tim penyelenggara ajang sepakbola empat tahunan tersebut. Dua gol dari kepala seorang Zinedine Yazid Zidane di babak pertama makin lengkap dengan gol dari Emmanuel Petit di penghujung laga. Selesai Piala Dunia tersebut saya memutuskan untuk menjadi fan Timnas Perancis. Zidane benar-benar hebat, dia membuat saya tidak bisa membenci dia karena mengalahkan Brazil.